Setiap kota besar tidak akan terlepas dari masalah kemacetan. Kemacetan sendiri adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta untuk skala nasional. Terkadang masalahnya tidak hanya terletak pada kendaraan yang terlalu banyak, bisa saja karena regulasi kendaraan umum yang tidak baik maupun tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk.
Menurut Castrol's Magnatec Stop-Start Index, Jakarta dinobarkan menjadi kota termacet nomor satu di dunia dengan rata-rata 33240 berhenti-jalan per kilometer. Ada harapan bahwa mungkin Mumbai akan lebih macet daripada Jakarta. Kenyataannya berbalik dan fakta telah membuktikan. Padahal sudah terdapat berbagai macam transportasi umum layaknya TransJakarta ataupun angkutan umum (disingkat angkot) dan bis dalam kota. Maka, apa sebenarnya yang salah dari keadaan kota ini? Dalam keadaan ini blogger akan merepresentasikan masalah di kota Jakarta sebagai suatu kasus umum yang dinilai sebagai worst case.
Pertama, pertambahan jumlah kendaraan pribadi seperti mobil dan motor yang tidak sebanding dengan infrastruktur jalan raya. Dikutip dari edurusyanto.wordpress.com, pertumbuhan infrastruktur jalan hanyalah 0,01% tiap tahunnya. Sedangkan kendaraan bermotor bertambah sekitar 10 - 15% per tahun. Dan hal yang lebih memiriskan, persentase pengguna kendaraan umum selama 13 tahun terakhir ini malah menurun dan pengguna kendaraan pribadi meningkat tajam.
Kedua, ketidak efektifan dari kendaraan massal itu sendiri. Bayangkan jika sebuah sistem massal yang sudah direncanakan dengan matang rusak akibat paradigma pembedaan. Lebih banyak orang lebih mempercayai kendaraan pribadi ketimbang kendaraan umum. Atau kasus lebih spesifiknya, masih ada saja kendaraan yang mengambil jalur yang semestinya bukan haknya seperti trotoar.
Ada beberapa cara untuk mengatasi hal2 seperti ini seperti pemotongan jumlah impor kendaraan pribadi per tahunnya ataupun persebaran di daerah yang lainnya sehingga tidak terpusat di satu kota saja. Kedua ialah penggunaan mass transportation yang lebih dominan dibanding kendaraan pribadi bermotor ataupun sebuah regulasi khusus sehingga benar2 hanya orang tertentu saja yang dapat memiliki mobil. Seperti di Hongkong. Di Hongkong memang pajaknya jauh lebih kecil dibandingkan di Indonesia, namun apa yang menjadikan warga di kota Hongkong lebih memilih untuk menggunakan kendaraan umum? Tarif parkir di Hongkong sangatlah mahal. Dikarenakan luas tanah yang tersedia pun sedikit, maka membangun lahan parkir yang luas pun akan sangat sulit. Sangat diuntungkan karena dengan begitu kendaraan umum layaknya bis akan berperan besar dalam kehidupan sehari-hari.
Solusi ketiga adalah penggunaan sepeda sebagai alat transportasi jarak dekat. Namun jika sepeda biasa akan terkesan biasa saja. Bagaimana jika mengembangkan tenaga gerak untuk menciptakan sebuah energi listrik untuk digunakan sebagai power bank? Dalam dinamo sepeda, energi gerak pada roda sepeda menggerakkan dinamo yang lalu dikonversikan ke dalam energi lain berupa lampu sepeda. Apakah masuk akal? Mungkin tidak, karena lampu sepeda hanya membutuhkan daya yang kecil sedangkan power bank membutuhkan daya cukup besar agar dapat mencadangkan baterai smartphone dari 0 hingga 100 %. Namun hal ini mungkin saja terjadi. Selain menjadi sebuah rekayasa baru, hal ini juga dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap transportasi ramah lingkungan dan sebagai gaya hidup baru di masa depan. Secara ekonomi, kita dapat memotong anggaran listrik sebesar 1% atau lebihnya akibat charging alat elektronik. Jika diibaratkan semua orang bersepeda, satu mobil yang berisi 4 orang dapat disetarakan dengan 6 orang bersepeda. Akibat semua sepeda dapat dimuatkan dalam satu jalan besar, tidak akan ada penyalahgunaan trotoar oleh pengendara sepeda motor lagi. Para pejalan kaki pun mendapatkan hak mereka di trotoar. Sebuah budaya positif dari perubahan menuju era masa depan.
Ada beberapa cara untuk mengatasi hal2 seperti ini seperti pemotongan jumlah impor kendaraan pribadi per tahunnya ataupun persebaran di daerah yang lainnya sehingga tidak terpusat di satu kota saja. Kedua ialah penggunaan mass transportation yang lebih dominan dibanding kendaraan pribadi bermotor ataupun sebuah regulasi khusus sehingga benar2 hanya orang tertentu saja yang dapat memiliki mobil. Seperti di Hongkong. Di Hongkong memang pajaknya jauh lebih kecil dibandingkan di Indonesia, namun apa yang menjadikan warga di kota Hongkong lebih memilih untuk menggunakan kendaraan umum? Tarif parkir di Hongkong sangatlah mahal. Dikarenakan luas tanah yang tersedia pun sedikit, maka membangun lahan parkir yang luas pun akan sangat sulit. Sangat diuntungkan karena dengan begitu kendaraan umum layaknya bis akan berperan besar dalam kehidupan sehari-hari.
Solusi ketiga adalah penggunaan sepeda sebagai alat transportasi jarak dekat. Namun jika sepeda biasa akan terkesan biasa saja. Bagaimana jika mengembangkan tenaga gerak untuk menciptakan sebuah energi listrik untuk digunakan sebagai power bank? Dalam dinamo sepeda, energi gerak pada roda sepeda menggerakkan dinamo yang lalu dikonversikan ke dalam energi lain berupa lampu sepeda. Apakah masuk akal? Mungkin tidak, karena lampu sepeda hanya membutuhkan daya yang kecil sedangkan power bank membutuhkan daya cukup besar agar dapat mencadangkan baterai smartphone dari 0 hingga 100 %. Namun hal ini mungkin saja terjadi. Selain menjadi sebuah rekayasa baru, hal ini juga dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap transportasi ramah lingkungan dan sebagai gaya hidup baru di masa depan. Secara ekonomi, kita dapat memotong anggaran listrik sebesar 1% atau lebihnya akibat charging alat elektronik. Jika diibaratkan semua orang bersepeda, satu mobil yang berisi 4 orang dapat disetarakan dengan 6 orang bersepeda. Akibat semua sepeda dapat dimuatkan dalam satu jalan besar, tidak akan ada penyalahgunaan trotoar oleh pengendara sepeda motor lagi. Para pejalan kaki pun mendapatkan hak mereka di trotoar. Sebuah budaya positif dari perubahan menuju era masa depan.